Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming mengatakan bahwa pemerintah telah memutuskan untuk memasukkan mata pelajaran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di tahun pelajaran 2025 mendatang melalui rapat terbatas. Hal itu ia sampaikan saat menghadiri acara “Creative Job Opportunity with AI” di Universitas Bina Nusantara (Binus), Jakarta, Jumat (2/5/2025) lalu. Wapres Gibran: Pelajaran AI Akan Masuk Kurikulum 2025 untuk SD-SMA
AI memang belakangan ini menjadi semakin populer seiring dengan perkembangan fiturnya yang pesat, sehingga sangat menarik untuk dibahas oleh siapapun, termasuk juga politisi. Seakan tak ingin ketinggalan dengan perkembangan teknologi ini, pemerintah kemudian buru-buru untuk merancang program pendidikan khusus tentang AI. Hal ini mungkin mengesankan bahwa pemerintahan saat ini sangat sigap terhadap disrupsi teknologi, namun tahukah Anda, sebenarnya banyak tantangan yang harus disiapkan oleh pemerintah sebelum kita benar-benar siap untuk menjalankan program ini.
Bagaimana AI Bekerja
Kecerdasan buatan (AI) adalah teknologi yang memungkinkan komputer dan mesin untuk mensimulasikan pembelajaran, pemahaman, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, kreativitas, dan otonomi manusia. AI, sebenarnya bukan hal yang baru. Ia telah dikembangkan dari tahun 1950-an yang kemudian menjadi semakin populer sejak tahun 2020-an karena Generative AI (Gen AI), yaitu teknologi AI yang mampu membuat konten-konten original berupa teks, gambar, suara, video, dan lain sebagainya melalui perpaduan antara deep learning dan machine learning. Sumber : What is Artificial Intelligence.

Dari penjelasan tersebut, dapat dilihat bahwa sebenarnya teknologi AI sudah ada dalam kehidupan sehari-hari kita bahkan sebelum maraknya Gen AI. Contohnya adalah dari rekomendasi konten-konten feed sosial media yang muncul sesuai dengan preferensi pribadi kita. Di situ AI bekerja dengan cara menganalisis kebiasaan yang kita lakukan melalui perangkat yang diakses.
Era Generatif AI dan Ancamannya
Berbagai perusahaan teknologi raksasa saat ini seperti ChatGPT, Google Gemini, Meta AI, Microsoft Copilot, dan lain sebagainya berlomba-lomba untuk mengembangkan layanan Gen AI. Hal ini memang merupakan suatu pengalaman baru, dimana pengguna dapat memanfaatkannya sebagai penunjang produktifitas. Dalam pekerjaan sehari-hari sebagai pekerja kreatif, saya juga sering memanfaatkan AI untuk mencari ide, atau melakukan generate gambar-gambar dan video tertentu. Namun demikian, saya juga memiliki pengetahuan fundamental sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada AI dan masih bisa bekerja walaupun dalam keadaan offline.
Mengutip pernyataan dari CEO Nvidia, Jensen Huang, “Anda tidak akan kehilangan pekerjaan karena AI. (Tetapi) Anda akan kehilangan pekerjaan karena orang yang memakai AI,”. Hal itu memang benar, namun kemungkinan apa yang akan terjadi jika setiap orang mengandalkan AI untuk menyelesaikan berbagai permasalahan di pekerjaannya? Inilah beberapa kemungkinan potensi ancaman yang saya coba rangkum:
- Hilang Kemampuan Berpikir Kritis
- Ketika sudah terbiasa menyelesaikan permasalahan dengan menggunakan AI, orang kemudian akan mulai berhenti untuk menganalisis informasi secara kritis dengan mempertimbangkan berbagai sudut pandang. Contohnya adalah ketergantungan seseorang dengan kalkulator untuk menyelesaikan soal perhitungan akan menyebabkan menurunnya kemampuan aritmatika, atau ketergantungan pada GPS yang menyebabkan menurunnya kemampuan navigasi spasial alami.
- Manipulasi Kontrol Sosial
- Gen AI merupakan tingkat lanjut dari AI biasa yang sekedar memilihkan rekomendasi konten untuk Anda. Gen AI memiliki kemampuan untuk memahami kondisi psikologi seseorang. Sehingga bisa jadi, suatu AI dimanfaatkan oleh pemerintah atau korporasi untuk memanipulasi opini publik, perilaku konsumen, atau pilihan politik melalui konten dan interaksi yang telah dipersonalisasi.
- Menurunnya Interaksi Sosial dan Empati
- Jika dalam berinteraksi terbiasa difasilitasi oleh AI (seperti teman AI, dan layanan pelanggan AI), keterampilan sosial manusia seperti empati, negosiasi, membaca bahasa tubuh, dan membangun hubungan mendalam bisa menurun.
Bagaimanapun juga, AI tak lebih dari sekedar alat. Sama halnya dengan kalkulator yang selama ini dikenal sebagai alat hitung. AI memang jauh lebih unggul karena tidak hanya dapat menjawab soal hitung-hitungan saja, melainkan juga soal sejarah, resep masakan, kesehatan, dan berbagai masalah yang kita jumpai di kehidupan sehari-hari.
Kembali pada mata pelajaran AI di Indonesia, yang menjadi pertanyaan mendasar sebenarnya bukanlah, “apakah kita perlu?”, melainkan “Apakah kita siap?”. Siap yang dimaksudkan di sini adalah siap secara menyeluruh, ya. Mulai dari pemerataan infrastruktur (jaringan internet dan perangkat keras) di setiap daerah, kesiapan guru, hingga biaya implementasinya. Karena dampaknya jika dipaksakan adalah hasil belajar yang dangkal, menambah beban kurikulum, dan semakin memperlebar kesenjangan. Bagaimana menurutmu?

