Saat ini, dunia tengah menghadapi disrupsi industri dan pasar. Terjadi efisiensi di setiap lini yang mengakibatkan gelombang PHK besar-besaran. Banyak juga industri yang harus gulung tikar karena sudah tidak mampu lagi bersaing. Ini merupakan dampak tidak langsung dari perkembangan teknologi yang masif.
Tentu saja, ini menjadi ancaman bagi setiap pekerja. Tidak ada jaminan bahwa setiap individu akan tetap dipertahankan oleh perusahaan. Proses seleksi akan terjadi. Dan menurut saya, individu yang adaptiflah yang akan mampu bertahan.
Perkembangan teknologi yang pesat belakangan ini, khususnya Artificial Intelligence (AI) memang berpotensi mampu menggantikan berbagai pekerjaan manusia. Bayangkan saja, dengan bantuan AI Chatbot, saya bisa mendapatkan puluhan atau bahkan ratusan ide konten dalam waktu yang singkat. Bagaimana jika manusia yang mengerjakan tugas ini? Mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama hingga sepuluh kali lipat. Belum lagi ketika harus menghadapi persoalan psikologis yang memengaruhi motivasi individu tersebut pada saat itu. Proses delegasinya juga akan terganggu.
Kehadiran artificial intelligence atau kecerdasan buatan terbukti dapat meningkatkan produktifitas. Di sini saya ingin berbagi pandangan tentang bagaimana AI dapat mengancam karir, dan apa yang sebaiknya dilakukan.
AI dirancang untuk mampu berpikir dan bertindak rasional layaknya manusia. Bekerja dengan cara menggabungkan sejumlah data set yang besar kemudian diolah dengan algoritma untuk menemukan sebuah pola. Pola-pola tersebutlah yang akan digunakan oleh AI untuk menyelesaikan masalah saat menerima perintah (prompt). Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa AI baru akan bekerja setelah mendapatkan perintah. Perbedaannya dengan manusia adalah, AI tidak perlu istirahat karena bertenaga listrik. AI juga tidak memiliki ambisi dan nafsu sehingga tetap stabil sepanjang waktu. Hal inilah yang menjadikannya lebih unggul dibandingkan dengan mempekerjakan manusia.
Berdasarkan perilakunya, tipe pekerja dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu tipe operator dan inisiator. Pekerja tipe operator inilah yang posisinya berpotensi Digantikan oleh AI karena memiliki perilaku yang serupa.
Pekerja tipe operator baru bekerja ketika mendapatkan perintah. Seorang operator cenderung tidak melakukan apapun pada saat senggang hingga datang lagi perintah baru. Contohnya adalah seorang penjaga toko, yang memang ditugaskan untuk melayani pelanggan yang datang. Pada saat tidak ada pelanggan, dia hanya akan diam dan menunggu. Di jeda waktu tersebut, dia biasanya mengisi waktu dengan aktifitas yang kontra produktif untuk kepuasan pribadinya hingga pelanggan lain datang. Hal ini memang tidak salah, karena dia bertidak sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati dengan si pemberi kerja.
Lalu apa bedanya dengan inisiator? Seorang inisiator cenderung memiliki inisiatif setiap kali ada ruang baginya untuk berfikir. Seorang inisiator biasanya memiliki kesadaran untuk memperbaiki sesuatu yang dia rasa kurang nyaman, dan resah ketika hanya duduk diam dalam waktu lama. Tipe pekerja ini cenderung adaptif dan bisa bertahan di manapun dia berada. Pikiran seorang inisiator penuh dengan gagasan, solusi, dan mampu bertindak secara mandiri. Jika suatu ketika memang ada teknologi yang mampu menggantikan tugasnya, ia akan secara cepat menemukan cara kerja baru dan memanfaatkan teknologi tersebut untuk menunjang produktifitasnya. Teknologi AI mungkin butuh waktu yang lama untuk dapat menggantikan pekerja bertipe ini.
Untuk itu, mulai ubah kebiasaan bekerja Anda agar tetap dipertahankan oleh perusahaan tempat Anda bekerja. Kepekaan terhadap situasi internal dan eksternal akan menjadi modal dasar untuk menjadi seorang inisiator.
Demikian pandangan yang dapat saya bagikan. Semoga tulisan ini dapat menjadi bekal dan wawasan Anda dalam menghadapi ketatnya tantangan di dunia kerja saat ini.
Sumber:
https://algorit.ma/blog/data-science/cara-kerja-artificial-intelligence/

